(1/12) diperingati sebagai Hari AIDS Sedunia. Sejak digagas pada Agustus 1987 lalu, dunia kedokteran masih berjuang menemukan obat yang benar-benar mujarab membunuh virus HIV.
M RIDHUAN, Balikpapan
PADA 2019, United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) merilis jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus (HIV)/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) sebanyak 38 juta orang di dunia.
Di Indonesia jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) diperkirakan tembus di angka 600 ribu jiwa sejak 1987, ketika pertama kalinya Indonesia melaporkan adanya kasus AIDS ke Badan Kesehatan Dunia alias WHO. Di Kaltim, UNAIDS dan Koalisi AIDS Indonesia (IAC) mencatat ada 13 ribu warga Kaltim yang terinfeksi virus HIV.
Hingga kini HIV/AIDS menjadi salah satu penyakit menular yang belum bisa disembuhkan secara total. Namun, dengan perkembangan ilmu kedokteran dan obat-obatan saat ini, membuat usia harapan hidup ODHA menjadi lebih besar.
Dokter Pelaksana Poli HIV RSUD dr Kanujoso Djatiwibowo (RSKD) Balikpapan dr Marissa Aprilya menjelaskan, kondisi HIV/AIDS saat ini sudah tidak bisa dibandingkan dengan 20-30 tahun lalu. “Kini tertular HIV bukan akhir dari segalanya,” ujarnya.
Dulu HIV/AIDS memang menjadi penyakit menular dengan risiko kematian yang tinggi. Sebab, baru bisa diketahui begitu muncul keluhan penderita akibat keterlambatan pengobatan. Kini dengan banyaknya kelompok dukungan sebaya ODHA, mempercepat proses skrining pada kelompok dengan risiko tinggi. “Angka penderita HIV pun meningkat. Bukan berarti buruk. Malah baik, karena artinya proses skirining berjalan baik,” ucapnya.
Di RSKD misalnya, Poli HIV selama tahun ini, disebut Marissa, menerima peningkatan jumlah ODHA. Per bulan rata-rata 10–20 persen. Hingga kini rumah sakit pelat merah milik Pemprov Kaltim itu menangani 300 pasien dengan status tertular HIV/AIDS. “Karena skrining berjalan baik, kami menemukan banyak ODHA dengan kategori stadium 1,” sebutnya.
Pada stadium 1, HIV tidak menunjukkan gejala. Membuat seseorang kebanyakan tidak sadar telah tertular virus karena tidak merasakan keluhan apapun. Dengan deteksi dini ini, dokter bisa segera melakukan pengobatan untuk memperlambat perkembangan virus. “Jenis obat ini disebut antiretroviral (ARV),” kata Marissa.
ARV bekerja dengan menghilangkan unsur yang diperlukan virus HIV untuk menggandakan diri dan mencegah virus HIV menghancurkan sel CD4 atau sel yang sangat berperan penting dalam sistem kekebalan tubuh manusia. “ARV saat ini sangat baik,” sebutnya.
Sejak 2014, dengan sejumlah revisi kebijakan pemberian obat kepada ODHA, memudahkan dokter memberikan ARV tanpa proses pemeriksaan darah terlebih dulu. Bahkan ODHA bisa mendapatkan obat ARV itu secara gratis. Kalau pun datang hanya membayar biaya pendaftaran rumah sakit.
Untuk pasien peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan bahkan tak perlu mengeluarkan uang sepeser pun. Dengan ARV pula, Marissa menggambarkan kualitas hidup ODHA sudah bisa disamakan dengan non-ODHA. “Jadi, sekarang tidak ada perbedaan,” tegasnya.
Evaluasi digunakan dokter untuk melihat apakah ada virus HIV pada pasien. Dari 150 pasien Poli HIV RSKD yang menjalani pengobatan ARV, 80 persen sudah tidak memiliki virus HIV di dalam darah mereka. Artinya obat yang diberikan mampu mengisolasi virus di dalam sel CD4 dan mencegahnya melakukan duplikasi. “Namun, perlu diingat, konsumsi obat itu harus dilakukan secara rutin dan seumur hidup,” ungkapnya.
Efek pengobatan dengan ARV memang akan berbeda, bergantung stadium HIV ODHA. Untuk stadium 4 atau penderita yang sudah divonis menderita AIDS, diperlukan penanganan lebih intens. Dengan hasil, virus bisa ditekan. Bahkan Marissa menyebut sejumlah pasien ODHA kategori stadium 4 bisa “sembuh” dan kembali ke stadium 1. “Ya, sejumlah kasus menunjukkan kondisi tersebut. Tapi sekali lagi pengobatan ini tidak boleh putus,” tuturnya.
Kasus ODHA dengan kondisi membaik memang banyak. Namun, ada pula yang justru memburuk. Hal itu disebabkan sejumlah faktor. Di antaranya, jenuh dengan pengobatan hingga kondisi psikologi akibat faktor eksternal. Jika pengobatan terputus, pengobatan akan diulang dari awal. Dengan jenis regimen ARV yang berbeda. “Karena jika terputus, virus cenderung lebih kebal dengan obat sebelumnya. Karena itu, perlu penanganan dan pemilihan regimen yang berbeda,” sebutnya.
Soal psikis dari ODHA, biasanya dokter akan menyarankan pasien untuk berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Untuk mencari penyebab ODHA mengalami gangguan psikis. Jika persoalannya pada keluarga, solusinya memberikan pemahaman kepada anggota keluarga. Dan lainnya bergantung penyebab munculnya gangguan. “Ini yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi semua pihak. Bagaimana menyingkirkan stigma buruk terhadap ODHA,” ujarnya.
Kata dia, penularan HIV/AIDS hingga kini belum mengalami perkembangan. Masih melalui pertukaran cairan tubuh. Baik dari hubungan seksual, penggunaan jarum suntik bergantian, transfusi darah, dan pada anak karena proses kehamilan, persalinan dan menyusui dari ibunya yang terinfeksi HIV. “Saat ini kelompok paling rentan yang kami temukan banyak karena hubungan seksual. Baik homoseksual maupun heteroseksual,” ungkapnya.
Lalu bagaimana dengan penanganan ODHA yang terkonfirmasi positif Covid-19? Marissa hingga kini belum menemukan kasus ODHA yang tertular virus corona. Yang ada, sejumlah pasien Covid-19 kemudian setelah dilakukan pemeriksaan ternyata terinfeksi HIV.
“Tapi saya selalu ingatkan kepada pasien ODHA. Agar dua kali lipat melakukan pencegahan agar tidak tertular virus corona. Karena bagaimana pun imun tubuh mereka sudah lemah karena HIV,” imbuhnya. Kalau pun jika ada ODHA yang terinfeksi corona, penanganannya simultan dengan pengobatan Covid-19 kemudian terapi untuk HIV-nya.
Marissa juga mengungkapkan, dari informasi yang dia terima, bakal ada obat dengan regimen baru yang akan dikeluarkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Obat itu disebut mampu mencapai virus HIV yang tidak terdeteksi dengan lebih cepat. “Kemungkinan akan launching 2021,” kata dia. (rom/k16)
Editor : izak-Indra Zakaria