Ada ratusan sekolah dan ribuan pelajar di Jagakarsa yang membuat kawasan di Jakarta Selatan itu rawan gesekan. Polsek Jagakarsa menyediakan latihan gratis tinju, kickboxing, dan taekwondo untuk mengarahkan energi anak-anak muda ke perburuan prestasi.
ILHAM WANCOKO, Jakarta Selatan
BERTUBI-TUBI bujuk rayu dari teman dan saudara untuk menjadi debt collector atau penagih utang terus ditolak Rizki Fauzan Sangadji. Pemuda 23 tahun itu teguh ingin membuktikan kepada ibunya, Esthy Dalman Gorontalo, bahwa dia mampu berprestasi di olahraga adu jotos.
Apalagi, anak muda asal Maluku itu telah bertemu dengan lingkungan yang mendukungnya: Jagakarsa Fight Club (JFC). Berlatih tinju secara gratis yang ditempuhnya berkat inisiatif Kapolsek Jagakarsa Kompol Multazam Lisendra. Selain tinju, disediakan pula latihan gratis kickboxing dan taekwondo.
”Dengan bantuan Pak Kapolsek, saya janji akan membuktikan ke Mama bisa berprestasi membanggakan keluarga. Nantinya semoga bisa mengharumkan nama Indonesia,” ujarnya kepada Jawa Pos (30/4). Dia menceritakan, niat awalnya datang dari Ambon ke Jakarta memang ingin meraih cita-cita sebagai petinju. Namun, jalan yang harus dia lalui ternyata panjang dan terjal.
Salah satu rintangan terbesar tentunya berasal dari lingkungan. ”Ke Jakarta mau jadi petinju, malah banyak yang menawari jadi debt collector (DC). Banyak saudara yang jadi DC soalnya,” ujarnya. Tapi, keteguhannya untuk memburu prestasi di tinju kian menemukan jalan. Terutama setelah mengenal Kompol Multazam. ”Saya dikenalkan saudara ke Pak Kapolsek, yang benar-benar mendukung anak muda untuk berprestasi,” tuturnya.
Kini Fauzan terus menempa dirinya menjadi petinju di JFC. Sudah tiga kali mengikuti kompetisi atau event tinju. ”Dua kali menang dan satu kali kalah angka. Sudah ada dua medali yang didapatkan,” ujarnya. Fauzan mengakui, banyak rekannya di JFC yang dulunya pelaku tawuran. Tapi, akhirnya mereka memilih fokus berlatih tinju.
Sama bersemangatnya dengan Fauzan adalah Muhammad Puja Alam. Anak muda kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, 21 tahun lalu, itu sedang berkuliah di Jakarta. Dia memang pernah menggeluti tinju saat masih di pondok pesantren jenjang SMP dan SMA.
Tapi, cedera yang membekapnya memaksanya rehat selama setahun. ”Semangat itu timbul kembali setelah melihat di Instagram ada JFC. Dilatih gratis pula,” paparnya.
Dia menceritakan, setelah mendaftar secara online Desember 2022, dirinya datang ke Polsek Jagakarsa. ”Saya cerita ke coach-nya sebenarnya pernah berlatih tinju,” tuturnya.
Akhirnya Puja pun menempa dirinya di JFC. Baru tiga atau empat kali berlatih, salah seorang pelatih melihat bakatnya. Apalagi, dia tahu bahwa Puja berlatih tinju sejak SMP. Puja pun diminta bertanding dan langsung memenangi duel pertamanya.
Saat tanding itulah, adrenalinnya yang sempat terkubur bangun kembali. Keinginannya untuk meraih prestasi menggebu-gebu. ”Saya tidak mau menyia-nyiakan suntikan semangat dari Pak Kapolsek. Sudah diberi banyak fasilitas, ya harus berprestasi,” ujar Puja.
Jawa Pos sempat merasakan atmosfer latihan tinju di JCF. Puluhan anak muda berlari bersama, yang dilanjutkan dengan shadow boxing. Suasananya benar-sangat antusias dan bersemangat.
Apalagi saat salah seorang coach JFC Sutari Rai berteriak ke para anak didiknya. ”Lihat, ini latihan bersama. Ambil ilmunya. Jangan cuma melotot doang. Pelajari gimana memukul, tapi tidak mau terpukul,” tuturnya.
JFC memang diprakarsai Kompol Multazam bersama anggotanya di Polsek Jagakarsa. Ide itu muncul menyusul banyaknya fenomena tawuran di sekitar Jakarta, khususnya kawasan Jagakarsa. Energi yang meluber dari anak muda tersebut kerap kali diarahkan ke jalan yang salah. Berkelahi dan tawuran yang sering kali menjelma menjadi kejahatan jalanan.
Di Jagakarsa memang potensi tawuran itu begitu tinggi. Terdapat 217 sekolah di kawasan tersebut, mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas (SMA). Jumlah siswa seluruh sekolah itu tercatat mencapai 55 ribu pelajar. ”Tawuran jelas menjadi masalah,” papar Kompol Multazam.
Bahkan, muncul fenomena tawuran menjadi konten media sosial. Dijadikan hiburan untuk mendapatkan perhatian.
Dia menuturkan, setelah dilakukan pemetaan masalah di Jagakarsa saat mulai menjabat di Polsek Jagakarsa pada akhir 2022, didapati bahwa di kawasan tersebut terdapat sasana milik tokoh tinju Richard Engkeng.
Saat itulah Multazam mulai bergerilya. Bertukar pikiran, berdiskusi, dan menyambung rasa agar bisa membentuk komunitas yang bisa menjadi wadah bagi para remaja.
Akhirnya disepakati latihan tinju dihelat di sasana milik Richard. Sedangkan kickboxing dan taekwondo di lantai 3 Polsek Jagakarsa.
Remaja yang terlibat tawuran, remaja yang kekurangan fasilitas, atau siapa pun yang ingin lepas dari jerat dunia hitam diterima dengan tangan terbuka di JFC. ”Kami mengarahkan mereka agar melampiaskannya dengan berlatih di sasana ini agar bisa meraih prestasi,” tuturnya. (*/c7/ttg)
Editor : izak-Indra Zakaria