Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Israel Makin Brutal Lakukan Serangan, Angka Korban Tewas Menyentuh 11 Ribu Lebih Jiwa

izak-Indra Zakaria • Minggu, 12 November 2023 - 20:44 WIB
Reruntuhan kota Gaza akibat serangan Israel. (Leo Correa / The Associated Press)
Reruntuhan kota Gaza akibat serangan Israel. (Leo Correa / The Associated Press)

Lebih dari satu bulan pengeboman Israel terhadap Palestina, agaknya tak ada lagi tempat yang paling aman di Gaza

Parade pengeboman Israel tanpa ampun, terus menyasar wilayah rumah sakit yang merupakan tempat ribuan orang mencari perlindungan. Bahkan kabarya, kini Israel kian mengintensifikan serangannya di area rumah sakit di Gaza.  Atas klaimnya terhadap RS Al Shifa sebagai pusat komando Hamas di GazaIsrael melancarkan serangan bertubi-tubi di area sekitar rumah sakit.

Sekitar rumah sakit Al Shifa menjadi tempat pengeboman besar-besaran serangan Israel, setelah beberapa terakhir serangan meningkat dan menyasar 8 rumah sakit di GazaDilansir Mondoweiss, Sabtu (11/11), situasi terkini beberapa rumah sakit di kota Gaza dikepung pasukan Israel dan menghadapi kemungkinan terburuk. Kenyataan pilu di rumah sakit di kota Gaza adalah kekurangan air, makanan, dan listrik. fasilitas medis diambang penutupan karena tidak ada sumber daya yang memadai. 

Kementerian Kesehatan di Gaza menyebutkan tank-tank militer Israel mengepung rumah sakit al-Rantisi dan al-Nasr dalam 24 jam terakhir. Juru bicara Kementerian, Ashraf Al-Qidra mengatakan, “ Ribuan pasien, staf medis, dan pengungsi terjebak di dalam rumah sakit, tanpa air dan makanan, dan berisiko meninggal setiap saat. Dunia seharusnya malu karena tidak melakukan apa pun dalam menghadapi pembantaian, dan menargetkan serta mengepung rumah sakit.”

Otoritas kesehatan di Gaza menyebut pihaknya hanya punya waktu beberapa jam sampai rumah sakit di kota Gaza tidak dapat beroperasi karena kekurangan sumber daya. Selain itu disebutkan bahwa 38 anak yang menderita gagal ginjal di RS Rantissi kini meninggal dunia.  Sementara itu, Bob Kitchen dari Komite Penyelamatan Internasional mengatakan, “Sekarang 95 persen penduduk tidak dapat mengakses air bersih dan 1,5 juta orang terpaksa mengungsi ke tempat yang padat penduduk, dan cuaca musim dingin yang buruk akan segera terjadi."

"Kondisinya berbahaya dan dapat menyebarkan penyakit menular dan penyakit yang ditularkan melalui air – penyakit yang berdampak buruk pada anak-anak dan menyebabkan kematian yang dapat dicegah.” Ujar Bob. Sejak konflik meletus pada 7 Oktober, hingga hari ke-35 kampanye genosida Israel, jumlah tewas menyentuh angka 11.078 korban jiwa, 4.506 di antaranya adalah anak-anak. 

Sementara itu korban hilang di bawah reruntuhan berjumlah 2.700 orang, dengan 1.500 di antaranya adalah anak-anak. Selain itu korban luka-luka mencapai 27.490.

EKSODUS DARI RUMAH SAKIT

Sejak tanggal 7 Oktober, ribuan nyawa telah melayang dan ribuan orang lainnya terluka dalam serangan mendadak yang dilancarkan oleh kelompok pejuang Hamas terhadap Israel. Sebagai respons, Israel melakukan kampanye pengeboman dan pengepungan total terhadap Jalur Gaza, mendorong wilayah tersebut menuju ambang kehancuran dalam konflik berskala besar yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tom Potokar, kepala ahli bedah Komite Internasional Palang Merah (ICRC) yang saat ini bekerja di Rumah Sakit Gaza Eropa, menjelaskan tantangan besar yang dihadapi tim medisnya dalam wawancara dengan ABC News Live pada hari Jumat (10/11).

Potokar, yang mengkhususkan diri dalam penanganan luka bakar, menyampaikan bahwa mereka telah menghadapi "tumpukan kasus" luka bakar, dengan jumlah pasien yang terus-menerus dan tanpa tanda-tanda perlambatan. Pasien luka bakar bervariasi dalam usia, termasuk yang paling muda berusia 4 bulan. Dia menyebutkan bahwa sebagian besar pasien mengalami luka bakar pada wajah dan anggota tubuh, dengan potensi risiko jaringan parut yang signifikan di masa depan.

Potokar yang sebelumnya pernah menjadi ahli bedah perang di Gaza, menggambarkan tingkat kerusakan saat ini sebagai "lebih parah daripada yang pernah saya alami sebelumnya" dan berada di tingkat yang sangat berbeda. Dia juga mengungkapkan bahwa cara mereka mengobati luka bakar saat ini terbatas karena pasokan medis yang terbatas, ia menggambarkannya sebagai pendekatan yang "mundur ke 40, 50 tahun yang lalu" dan tidak ideal dalam kondisi saat ini. (*)

Editor : izak-Indra Zakaria
#Mancanegara