TARAKAN – Selain membangun jembatan yang roboh pada 14 Desember lalu, Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, juga melanjutkan proyek peningkatan kualitas permukiman kumuh di Tarakan. Diketahui, proyek peningkatan kualitas permukiman di Kelurahan Karang Rejo, sudah dilaksanakan sejak 14 Februari lalu.
Perwakilan kontraktor pelaksana dari PT Lidy's Borneo, Mustang, menyatakan, anggaran yang dikucurkan sebesar Rp 22.008.508.024, dan kontrak pekerjaan berakhir Desember tahun ini. Selain proyek jembatan, juga turut dikerjakan pembenahan jalan di wilayah Selumit Pantai, di belakang Pasar Gusher, penataan taman, dan penjemuran rumput laut dengan luas total sepanjang 1,3 km.
“Kalau lebar jembatan 3,4 meter dengan panjang 10 meter lebih. Proyek ini merupakan program Perkim. Jadi program Kotaku itu di bawah Perkim dan Balai Cipta Karya,” ujarnya, Sabtu (19/12).
Ia mengaku, pengerjaan jembatan yang menghubungkan Kelurahan Karang Rejo dan Selumit Pantai sempat terkendala setelah roboh belum lama ini. Ia menegaskan, robohnya jembatan karena ada permasalahan pada perancah beton yang ditabrak nelayan saat akan dilakukan pengecoran.
“Jembatan ini belum jadi, baru proses bekisting dengan pembesian. Jadi, masih untuk jembatan ini baru proses awal pengerjaan,” jelasnya.
Kini, pihaknya akan melakukan pengaturan ulang dan meminta nelayan untuk sementara waktu tidak melewati bawah jembatan. Sekaligus memberikan sosialisasi kepada nelayan untuk menambatkan kapalnya di luar atau tidak melewati jembatan.
“Kita sudah rapat dengan pihak terkait, dalam arti tim direksi, Dirjen Cipta Karya, konsultan, dan kami sebagai kontraktor pelaksana bersama perangkat di lokasi. Supaya kami bisa bekerja kembali dengan menutup akses sungai. Karena kita tidak mau kejadian yang sama terjadi lagi,” katanya.
Menurutnya, jika kejadian serupa terjadi, bisa mempengaruhi pengerjaan dan pekerja proyek jembatan. Ia juga memastikan tidak ada gagal struktur, tetapi murni karena gagal tongkat atau perancah yang tertabrak kapal nelayan. Secara struktur, pekerjaan proyek jembatan ini selesai di tanggal 20 Desember.
"Tetapi, karena terkendala masalah robohnya jembatan ini, akhirnya diberikan lagi kesempatan untuk nelayan mengeluarkan perahunya dan menutup akses sungai, diperkirakan pekerjaan selesai akhir Desember," ungkapnya.
Ia memaparkan, pengerjaan jembatan menggunakan umur beton. Dalam arti tidak bisa membuka bekisting atau kayu tongkat hingga sampai pada umur beton, sebulan setelah di cor.
Dari pantauan media ini, masih banyak kapal nelayan yang tambat di kawasan permukiman yang melewati lokasi pembangunan jembatan. Padahal, di atas jembatan sudah terbentang tulisan ‘Sungai Ini Ditutup Sementara sejak 16 Desember hingga 16 Januari 2021’. (sas/udi)
Editor : uki-Berau Post