BIAK – Kondisi memprihatinkan melanda internal tim PSBS Biak setelah sang pemain, George Brown, membongkar borok manajemen melalui unggahan surat terbuka di akun Instagram pribadinya. Mewakili rekan setim dan staf, George mengungkapkan bahwa klub saat ini tengah dilanda krisis finansial hebat yang berdampak langsung pada kesejahteraan pemain dan operasional tim.
Dalam unggahan tertanggal 15 April 2026 tersebut, George Brown secara terang-terangan meminta bantuan kepada PSSI dan operator liga (iLeague) untuk turun tangan. Ia menyebutkan bahwa hak-hak pemain telah diabaikan selama berbulan-bulan. ”Selama beberapa bulan terakhir, telah terjadi keterlambatan pembayaran gaji, di mana beberapa individu tidak menerima pembayaran selama kurang lebih dua setengah bulan, dan yang lainnya hingga tiga bulan,” tulis George di akun @georgepbrown.
Krisis ini rupanya tidak hanya soal angka di rekening, melainkan sudah menyentuh kebutuhan dasar di lapangan. George mengungkapkan fakta miris di mana kebutuhan pokok saat latihan sering kali tidak terpenuhi. ”Dalam beberapa kesempatan, kebutuhan dasar seperti air minum setelah sesi latihan tidak selalu tersedia. Selain itu, saat ini tidak tersedia makanan di akomodasi bagi pemain lokal,” lanjutnya.
Kondisi semakin memburuk setelah fasilitas penunjang tim mulai ditarik satu per satu. George menjelaskan bahwa kendaraan tim sudah tidak bisa digunakan, bahkan pemain asing mulai terancam menjadi tunawisma karena tempat tinggal mereka akan dikosongkan akibat tunggakan pembayaran. ”Pemain asing menerima pemberitahuan pengosongan tempat tinggal akibat kurangnya pembayaran. Bahkan, sesi latihan terkadang tidak dapat dilakukan karena tidak tersedianya lapangan,” ungkap kakak kandung Jack Brown tersebut.
Para pemain mengaku sudah mencoba menjalin komunikasi dengan manajemen klub untuk mencari kejelasan, namun hingga kini pihak manajemen PSBS Biak masih bungkam. Hal inilah yang mendasari para pemain akhirnya memutuskan untuk bersuara di ruang publik demi mendapatkan perlindungan hukum dan profesionalisme kerja.
George menegaskan bahwa surat terbuka ini tidak dibuat untuk memicu konflik, melainkan murni untuk mencari solusi agar nasib pemain dan staf terselamatkan. ”Kami memohon dukungan dan bimbingan Anda (PSSI dan iLeague) untuk membantu menyelesaikan masalah ini secara profesional, sehingga semua pihak dapat bergerak maju dengan cara yang positif dan stabil,” pungkasnya menutup surat tersebut. (*)
Editor : Indra Zakaria