Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Trump Mobilisasi Raksasa Otomotif: GM dan Ford Didorong Produksi Senjata Besar-Besaran Hadapi Perang Iran

Redaksi Prokal • Jumat, 17 April 2026 | 11:30 WIB
Donald Trump
Donald Trump

 
WASHINGTON – Pemerintahan Donald Trump dilaporkan tengah melakukan langkah radikal dengan menggandeng raksasa otomotif Amerika Serikat untuk beralih fungsi menjadi produsen senjata. Pejabat senior pertahanan AS telah memulai pembicaraan serius dengan eksekutif puncak dari General Motors (GM) dan Ford Motor guna memperkuat lini produksi militer di tengah memanasnya konflik dengan Iran.

Langkah ini diambil setelah Pentagon menyadari perlunya basis industri yang lebih luas untuk mendukung kontraktor pertahanan tradisional yang mulai kewalahan. Pejabat pertahanan secara spesifik menanyakan kesiapan perusahaan otomotif tersebut untuk dengan cepat beralih ke pekerjaan pertahanan guna memastikan keunggulan militer AS tetap terjaga. "Departemen Pertahanan berkomitmen untuk memperluas basis industri pertahanan dengan cepat dengan memanfaatkan semua solusi komersial yang tersedia," ungkap seorang pejabat Pentagon.

Pertemuan strategis ini sebenarnya telah diinisiasi sebelum perang dengan Iran meletus secara terbuka, namun urgensinya meningkat drastis dalam beberapa pekan terakhir. Donald Trump sendiri telah bertemu dengan para eksekutif dari tujuh kontraktor pertahanan utama pada Maret lalu untuk membahas pengisian kembali stok senjata yang terkuras. Pihak Gedung Putih ingin memastikan bahwa industri manufaktur Amerika memainkan peran yang lebih besar dalam menjaga ketahanan nasional.

Selain sektor otomotif, perusahaan dirgantara dan mesin seperti GE Aerospace serta Oshkosh juga terlibat dalam diskusi mendalam ini. Fokus utama militer AS adalah mempercepat pengadaan sistem artileri, amunisi, dan rudal anti-tank yang jumlahnya berkurang signifikan akibat bantuan ke luar negeri dan operasi militer langsung. "Para prajurit harus mempertahankan keunggulan yang menentukan, dan teknologi komersial adalah salah satu solusinya," tambah pejabat tersebut.

Situasi logistik persenjataan AS memang sedang berada di titik kritis setelah menyuplai persenjataan senilai miliaran dolar untuk konflik internasional sejak 2022. Hal ini diperburuk dengan intensitas serangan terhadap Iran yang membutuhkan amunisi dalam jumlah masif. Sebagai langkah balasan, Trump secara resmi telah meminta peningkatan anggaran militer yang sangat fantastis, dari semula USD 500 miliar melonjak drastis menjadi USD 1,5 triliun.

Peralihan industri ini mengingatkan publik pada era Perang Dunia II, di mana pabrik mobil beralih menjadi produsen tank dan pesawat tempur. Dengan anggaran raksasa dan keterlibatan langsung produsen kendaraan sipil, Trump tampaknya sedang mempersiapkan Amerika Serikat untuk konfrontasi militer jangka panjang di kawasan Timur Tengah. Hingga saat ini, baik pihak Ford maupun General Motors belum memberikan pernyataan resmi terkait detail kerja sama militer tersebut. (*)

Editor : Indra Zakaria
#donald trump