PROKAL-CO- Gejolak di Timur Tengah kembali mencapai titik didih yang mengkhawatirkan. Pemerintah Iran secara resmi mengumumkan penutupan total Selat Hormuz pada Sabtu (18/4), sebuah langkah berani yang secara terang-terangan mengabaikan gertakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Keputusan Teheran ini memicu alarm bahaya bagi stabilitas ekonomi global, mengingat posisi strategis selat tersebut sebagai urat nadi distribusi minyak dunia.
Situasi di lapangan dilaporkan kian mencekam setelah muncul laporan adanya tembakan peringatan dari kapal cepat militer Iran terhadap sejumlah kapal tanker yang melintas. Komando militer gabungan Iran menegaskan bahwa kendali penuh atas jalur perairan tersebut kini sepenuhnya berada di bawah otoritas angkatan bersenjata mereka. Iran berdalih bahwa langkah ekstrem ini merupakan respons atas tindakan "perompakan" maritim dan pelanggaran kesepakatan yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
Langkah Iran ini sekaligus menjadi tamparan bagi Donald Trump, yang sebelumnya sempat mengeklaim bahwa jalur tersebut tidak akan pernah tertutup lagi. Pihak Teheran melalui juru bicara parlemennya menanggapi klaim Trump dengan nada pedas, menyebutnya sebagai "pernyataan musuh yang tidak berdasar" dan menuding sang Presiden telah menebar kebohongan publik terkait proses negosiasi pengayaan uranium.
Reaksi keras pun datang dari Washington. Donald Trump merespons penutupan ini dengan ancaman militer yang mengerikan. Ia memberikan sinyal kuat untuk mengakhiri masa gencatan senjata yang akan habis pekan depan. "Anda akan menghadapi blokade, dan sayangnya kami harus mulai menjatuhkan bom lagi," tegas Trump dalam pernyataan yang dikutip oleh media internasional.
Dampak dari penutupan ini mulai terasa hingga ke Benua Eropa. Di Inggris, pemerintah mulai menginstruksikan warga untuk bersiap menghadapi kelangkaan barang pokok serta lonjakan tagihan rumah tangga yang tak terhindarkan. Gangguan jadwal penerbangan internasional juga diprediksi akan menjadi konsekuensi logis dari blokade militer ini.
Kini, mata dunia tertuju pada rencana negosiasi yang dijadwalkan berlangsung Senin besok. Namun, dengan tingginya tembok ketidakpercayaan dan saling lempar ancaman antara Washington dan Teheran, peluang terciptanya perdamaian tampak kian menipis. Selat Hormuz kini bukan sekadar jalur perdagangan, melainkan medan pertempuran ego yang berisiko menyeret dunia ke dalam resesi ekonomi yang dalam. (*)
Editor : Indra Zakaria