Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Meski Banyak Gagal Panen, Harga Beras di Banjarmasin Terpantau Masih Stabil

izak-Indra Zakaria • 2022-09-24 11:31:44
PASOKAN AMAN: Beras lokal Kalsel di pasaran Kota Banjarmasin tak mengalami kenaikan harga yang signifikan.
PASOKAN AMAN: Beras lokal Kalsel di pasaran Kota Banjarmasin tak mengalami kenaikan harga yang signifikan.

 Pasokan beras terpantau stabil di sejumlah toko dan pasar tradisional di Banjarmasin. Musim panen beras di sejumlah wilayah di Kalsel, menjadi salah satu faktor yang membuat harganya tetap stabil.

Hal ini diungkapkan Anto, salah seorang pedagang beras di Banjarmasin. Ia menuturkan, meski sejumlah petani langganannya ada yang gagal panen lantaran cuaca ekstrem, pasokan padi di tingkat lumbung masih aman. Sehingga tak perlu khawatir soal pasokan beras ke masyarakat.

“Tahun ini kawan-kawan memang banyak yang gagal panen karena faktor cuaca dan sebagainya, tapi stok beras Insya Allah aman, karena stok musim sebelumnya melimpah,” tuturnya.

Menurutnya, beras-beras lokal jelas masih jadi primadona. Sebut saja seperti Unus, Siam, Mayang, Pandak, Mutiara dan sebagainya. “Beras-beras lokal tentu masih yang paling banyak diminati konsumen. Sebab, beras ini memiliki tekstur yang pera atau tidak pulen. Sesuai dengan lidah orang Banjar,” sebutnya.

Harga jual beras ini berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp13 ribu per liter. Terbilang normal untuk jenis beras lokal premium.

Kendati sejumlah bahan pokok naik seiring dengan kenaikan harga BBM, hal ini tidak berpengaruh signifikan pada harga beras. Kenaikan terjadi berkisar antara Rp500 hingga Rp1000 per liternya. “Kalau pun ada kenaikan, tipis saja,” ujarnya. 

Sementara itu, harga jual beras baru panen juga terpantau stabil. Biasanya dijual lebih murah ketimbang usang. Yakni berkisar antara Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per liter.

“Teksturnya lebih lembek, penggemarnya tidak sebanyak beras usang,” jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Bairi, pedagang beras asal Sungai Andai. Bairi menuturkan tidak ada kenaikan harga beras secara keseluruhan. “Masih stabil, pasokan pun aman,” ujarnya.

Ia membeberkan, beras jenis Mayang dan Siam Unus masih jadi yang paling banyak dicari. Butirnya yang halus dan pera membuat beras ini begitu diminati. “Keduanya sama-sama beras top,” tuntasnya. (tia)

Hal ini diungkapkan Anto, salah seorang pedagang beras di Banjarmasin. Ia menuturkan, meski sejumlah petani langganannya ada yang gagal panen lantaran cuaca ekstrem, pasokan padi di tingkat lumbung masih aman. Sehingga tak perlu khawatir soal pasokan beras ke masyarakat.

“Tahun ini kawan-kawan memang banyak yang gagal panen karena faktor cuaca dan sebagainya, tapi stok beras Insya Allah aman, karena stok musim sebelumnya melimpah,” tuturnya.

Menurutnya, beras-beras lokal jelas masih jadi primadona. Sebut saja seperti Unus, Siam, Mayang, Pandak, Mutiara dan sebagainya. “Beras-beras lokal tentu masih yang paling banyak diminati konsumen. Sebab, beras ini memiliki tekstur yang pera atau tidak pulen. Sesuai dengan lidah orang Banjar,” sebutnya.

Harga jual beras ini berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp13 ribu per liter. Terbilang normal untuk jenis beras lokal premium.

Kendati sejumlah bahan pokok naik seiring dengan kenaikan harga BBM, hal ini tidak berpengaruh signifikan pada harga beras. Kenaikan terjadi berkisar antara Rp500 hingga Rp1000 per liternya. “Kalau pun ada kenaikan, tipis saja,” ujarnya.

Sementara itu, harga jual beras baru panen juga terpantau stabil. Biasanya dijual lebih murah ketimbang usang. Yakni berkisar antara Rp8 ribu hingga Rp10 ribu per liter.

“Teksturnya lebih lembek, penggemarnya tidak sebanyak beras usang,” jelasnya.

Hal yang sama juga diungkapkan Bairi, pedagang beras asal Sungai Andai. Bairi menuturkan tidak ada kenaikan harga beras secara keseluruhan. “Masih stabil, pasokan pun aman,” ujarnya.

Ia membeberkan, beras jenis Mayang dan Siam Unus masih jadi yang paling banyak dicari. Butirnya yang halus dan pera membuat beras ini begitu diminati. “Keduanya sama-sama beras top,” tuntasnya. (tia)

 
 
 
Editor : izak-Indra Zakaria