Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Kota Amuntai Terkepung Banjir Kiriman, 1.664 Rumah di HSU Terendam

Redaksi Prokal • 2026-01-01 10:56:09
TERENDAM: Jalan Lambung Mangkurat Desa Palampitan Kota Amuntai, Kabupaten HSU terendam air luapan Sungai Negara, aktivitas arus lalu lintas terganggu. (Foto: M.Akbar/Radar Banjarmasin)
TERENDAM: Jalan Lambung Mangkurat Desa Palampitan Kota Amuntai, Kabupaten HSU terendam air luapan Sungai Negara, aktivitas arus lalu lintas terganggu. (Foto: M.Akbar/Radar Banjarmasin)

AMUNTAI – Mengawali tahun baru 2026, sejumlah kawasan di Kota Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), terpaksa menghadapi bencana banjir. Luapan air yang berasal dari tiga sungai besar—Sungai Balangan, Sungai Tabalong, dan Sungai Negara—mulai merendam wilayah perkotaan sejak Rabu (31/12/2025) hingga Kamis (1/1/2026).

Kondisi ini merupakan dampak dari tingginya curah hujan di wilayah hulu yang mengakibatkan debit air kiriman meluap dan memutus normalitas aktivitas warga di pusat pemerintahan serta jalur ekonomi utama.

Lumpuhnya Jalur Protokol dan Pusat Pemerintahan

Pantauan di lapangan menunjukkan bahwa genangan air telah mencapai titik-titik vital. Jalan Ahmad Yani, tepat di depan Kantor Bupati HSU, menjadi salah satu titik terdampak paling parah. Ketinggian air yang bervariasi di lokasi tersebut mulai menghambat mobilitas kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.

Selain pusat kota, banjir juga meluas ke beberapa titik di Kecamatan Amuntai Tengah, di antaranya Jalan Palampitan dan Jalan Paliwara.

"Genangan air kiriman seperti ini memang kerap terjadi kalau di hulu debit airnya naik. Kami berharap ada solusi jangka panjang supaya pusat kota tidak terus-terusan terendam tiap tahun," ujar Ahmad, salah seorang warga Jalan Ahmad Yani.

Kepala Pelaksana BPBD HSU, Syamrani, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops), dampak banjir kali ini cukup masif. “Tercatat sebanyak 1.664 rumah terendam banjir yang tersebar di tujuh kecamatan. Kondisi ini mengganggu aktivitas harian dan memaksa sebagian warga untuk tetap bertahan di dalam rumah,” jelas Syamrani.

Syamrani menambahkan bahwa pihaknya saat ini fokus prioritas diberikan kepada wilayah dengan genangan air yang belum surut. Terus memantau kiriman air dari Kabupaten Balangan dan Tabalong. Masyarakat diminta waspada terhadap potensi kenaikan air susulan dan segera melapor jika membutuhkan evakuasi darurat.

Masalah banjir musiman di Kalimantan Selatan ini juga mendapat perhatian dari tingkat provinsi. Ketua DPRD Kalsel terus mendorong upaya normalisasi sungai sebagai langkah pengendalian banjir yang lebih efektif dan permanen di masa depan.

Hingga saat ini, belum ada laporan mengenai korban jiwa akibat musibah ini. Namun, warga yang melintasi jalan-jalan protokol diimbau untuk ekstra hati-hati karena arus air yang mengalir di atas aspal dapat membahayakan pengendara. (*)

Editor : Indra Zakaria