PROKAL.CO, KANDANGAN – Musim panen buah Langsat Lanbau di Desa Durian Rabung, Kecamatan Padang Batung, tahun ini diwarnai dengan tantangan alam yang cukup berat. Meskipun pohon-pohon di sentra bibit tertua ini tetap berbuah, para pekebun melaporkan adanya penurunan produktivitas yang signifikan akibat perubahan kondisi lingkungan.
Ahmad Sarpani, salah satu pekebun setempat, menjelaskan bahwa cuaca yang tidak menentu belakangan ini telah memicu peningkatan kadar keasaman tanah atau tanah menjadi masam. Dampaknya, volume panen dari setiap pohon menurun drastis. Jika dalam kondisi normal satu pohon mampu menghasilkan 60 hingga 90 kilogram, musim kali ini intensitas buah berkurang jauh karena pohon tidak mampu menyerap nutrisi secara optimal.
Guna mengatasi masalah tersebut, para petani di Desa Durian Rabung melakukan langkah penyelamatan dengan menaburkan kapur dolomit dan pupuk NPK secara intensif. Upaya teknis ini diharapkan dapat menetralkan unsur hara tanah sehingga pohon langsat tetap bertahan dan mampu menghasilkan buah di tengah anomali cuaca yang buruk.
Meski volume produksi sedang menurun, nilai ekonomi Langsat Lanbau justru tetap stabil dan cenderung tinggi. Saat ini, harga eceran di tingkat pasar berkisar antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Kelangkaan stok di tingkat petani tampaknya tidak menyurutkan minat pembeli, melainkan membuat buah khas ini semakin diburu oleh konsumen.
Jangkauan pasar Langsat Lanbau pun terbukti sangat luas. Pembeli besar tidak hanya berasal dari wilayah lokal Hulu Sungai Selatan, tetapi juga banyak didatangi pedagang dari Banjarmasin untuk didistribusikan ke luar daerah. Permintaan yang tetap tinggi di tengah terbatasnya pasokan membuat Langsat Lanbau tetap menjadi komoditas unggulan yang menjanjikan bagi kesejahteraan petani setempat. (*)
Editor : Indra Zakaria