SANGATTA - Puluhan tenaga medis pegawai di puskesmas Kaubun terlihat berkumpul dengan antusias, pada 6 Agustus 2023. Hal ini berbeda dari hari biasanya.
Seperti diketahui, tenaga medis tengah mengikuti kegiatan pelatihan pemeriksaan kesehatan mata yang dilakukan oleh tim pengabdian masyarakat (Pengmas), dari Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSUD dr. Soetomo Surabaya, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR).
Kegiatan itu bertema “Skrining Anak Usia Sekolah Berdasarkan Snellen Chart dan Aplikasi Peek Acuity pada Siswa SMP di Kecamatan Kaubun”.
Tim tersebut melakukan kegiatan pelatihan dengan empat pemeriksaan sekaligus, yakni pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan alat Snellen Chart dan aplikasi berbasis android Peek Acuity yang disampaikan oleh dokter Pikasa Retsyah Dipayana dan pemeriksaan persepsi warna menggunakan Ishihara Plate dan aplikasi Ishihara Color Blindness Test yang disampaikan oleh dokter Rifat Nurfahri.
Kedua dokter tersebut merupakan calon dokter spesialis mata. Dokter Pikasa juga merupakan putra asli Sangkulirang dan empat tahun lalu pernah menjadi kepala Puskesmas Kaubun selama hampir tujuh tahun.
Pelatihan tersebut juga dihadiri oleh dokter gigi Purwanti Ningsih selaku kepala Puskesmas Kaubun dan tiga orang spesialis mata yang menjadi pembimbing kegiatan pengabdian masyarakat ini, yaitu
Muhammad Firmansjah, dr., Sp.M(K), Indri Wahyuni, dr., Sp.M(K), dan Dr. Yulia Primitasari, dr., Sp.M(K). Dokter Pur, panggilan dokter Purwanti Ningsih, dalam sambutannya menyampaikan bahwa sangat antusias dengan adanya pelatihan ini.
"Karena adanya kegiatan ini akan sangat membantu bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Kaubun, untuk melakukan kegiatan penapisan tajam penglihatan dan persepsi warna pada kalangan pelajar. Kegiatan ini juga rutin setiap tahun pada Agustus " ungkapnya.
Dia berharap kualitas kesehatan masyarakat terutama di bidang kesehatan mata di Kaubun akan semakin meningkat.
Terpisah, Dokter Muhammad Firmansjah, dr., Sp.M(K), yang juga merupakan ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Mata (PERDAMI) Jawa Timur itu menyampaikan bahwa gangguan tajam penglihatan yang terkait dengan gangguan refraksi di Indonesia adalah yang tertinggi di level ASEAN. Hal ini salah satunya disebabkan karena banyak sekali anak usia sekolah yang tidak terdeteksi mengalami gangguan penglihatan yang berakibat fungsi penglihatannya tidak berkembang maksimal.
"Sementara itu, gangguan persepsi warna juga seringkali ditemukan justru pada saat seleksi penerimaan kerja atau kuliah bukan sejak usia sekolah. Oleh karena itu di daerah yang aksesnya masih sulit dicapai bahkan seperti jalur kendaraan offroad seperti di Kaubun ini sangat penting dilakukan peningkatan kemampuan skrining," bebernya.
Selain itu, Dokter Yulia Primitasari,dr, Sp.M(K) mengapresisasi semangat dan kesediaan dokter Pur dan tim untuk mengikuti kegiatan ini. Dia berharap dengan adanya pelatihan ini, anak usia sekolah yang mengalami gangguan tajam penglihatan dan persepsi warna dapat ditindaklanjuti lebih dini.
"Sehingga kualitas kehidupan mereka di masa depan juga lebih baik," jelas Dokter Yulia.
Di tempat yang sama, Dokter Indri Wahyuni, dr., Sp.M(K), selaku ketua program pengabdian masyarakat tersebut menyampaikan kegiatan ini sangat tepat dilakukan di wilayah ini.
"Karena dapat meningkatkan akses masyarakat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mata. Saya berharap kegiatan ini akan terus berkembang dan dapat menjadi percontohan bagi daerah lain," harapnya.
Kegiatan dilanjutkan pada Senin hingga Rabu, (7-9 Agustus 2023), tim Pengmas dan Puskesmas Kaubun melakukan pemeriksaan kesehatan di SMP Negeri 1, 3, dan 5. Sekaligus menyerahkan alat bantu edukasi kesehatan mata dan alat bantu pemeriksaan mata di masing-masing SMP, yang diberikan secara langsung kepada setiap kepala sekolah. Alat bantu tersebut juga dibagikan kepada puskesmas induk dan 8 puskesmas pembantu di area Kaubun.
Pemeriksaan ini diikuti oleh seluruh pelajar SMP yang mencapai 420 siswa. Menurut perwakilan salah satu siswa, pemeriksaan ini mudah dilakukan, cepat, dan membuat dirinya mengetahui kualitas tajam penglihatan dan persepsi warnanya sehingga menurutnya kegiatan ini bermanfaat.
Salah satu perwakilan kepala sekolah juga menyampaikan sangat mengapresiasi kegiatan ini dan akan membantu pelajar, dari pemeriksaan ditemukan mengalami gangguan tajam penglihatan maupun gangguan persepsi warna. Menurut bidan Erna, salah satu tenaga kesehatan di Puskesmas Kaubun, setelah pelatihan sebelumnya, kegiatan pemeriksaan yang dilakukan menjadi lebih tepat dan efisien, sehingga lebih banyak mendeteksi gangguan tajam penglihatan dan gangguan persepsi warna.
Dari total seluruh siswa yang diperiksa, didapatkan 64 siswa dengan gangguan tajam penglihatan dan 8 siswa dengan gangguan persepsi warna. (la)
Editor : Wawan-Wawan Lastiawan