SAMPIT– Meski puncak musim kemarau belum benar-benar tiba, sinyal waspada mulai menyala di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Ancaman krisis air bersih kini membayangi warga, terutama di wilayah selatan, seiring dengan potensi kekeringan dan intrusi air laut yang diprediksi akan mengganggu sumber air utama masyarakat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengungkapkan bahwa potensi kekeringan tahun ini menjadi perhatian yang jauh lebih serius dibandingkan ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hal ini dikarenakan dampak kekeringan menyentuh langsung aspek paling dasar dalam kehidupan warga.
“Kalau kemarau masih belum (puncak), tapi yang jadi kekhawatiran ulun (saya) itu kekeringan. Air bersih akan menjadi pikiran, karena terkait kehidupan dan penghidupan wilayah selatan,” ujar Multazam, Sabtu (18/4). Salah satu momok yang paling ditakuti saat debit sungai menurun adalah intrusi air laut. Fenomena merembesnya air asin ke aliran Sungai Mentaya ini diprediksi akan merusak kualitas air yang selama ini diandalkan sebagai sumber air bersih oleh masyarakat pesisir.
“Intrusi air laut akan bergerak masuk ke Sungai Mentaya,” tambahnya. Jika ini terjadi, instalasi pengolahan air akan kesulitan menyediakan air yang layak konsumsi, sehingga air bersih berpotensi menjadi barang langka dan mahal.
Sebagai langkah antisipasi dini, Pemerintah Kabupaten Kotim telah menetapkan status siaga bencana karhutla dan kekeringan selama 185 hari, terhitung sejak 8 April hingga 10 Oktober 2026. Penetapan status ini bertujuan agar seluruh elemen pemerintah dan masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk melakukan mitigasi.
“Walaupun saat ini masih masa transisi, kita tetapkan status siaga lebih awal agar semua pihak punya waktu untuk bersiap,” jelas Multazam. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi H Asan Sampit, musim kemarau di Kotim diprediksi mulai terjadi pada awal Juni 2026 dan berlangsung selama 120 hari. Puncaknya diperkirakan jatuh pada bulan Agustus dengan adanya potensi fenomena El Nino lemah hingga moderat yang dapat memperpanjang durasi kering.
Wilayah selatan seperti Teluk Sampit dan Pulau Hanaut diperkirakan akan menjadi daerah terakhir yang memasuki musim kemarau (sekitar 21 Juni), namun sekaligus menjadi kawasan paling rentan terdampak krisis air. Masyarakat kini diimbau untuk mulai bijak dalam menghemat penggunaan air bersih guna menghadapi bulan-bulan kering yang akan datang. (oes)
Editor : Indra Zakaria