Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Hidran Kering Jadi Terobosan Damkar Kukar, Optimalkan Pemadaman di Permukiman Padat

Elmo Satria Nugraha • 2026-01-07 14:40:55
Hidran kering di Kukar, yang pilot project di Tenggarong (Elmo/Prokal.co)
Hidran kering di Kukar, yang pilot project di Tenggarong (Elmo/Prokal.co)

PROKAL.CO, TENGGARONG - Keterbatasan sumber air dan kondisi geografis kawasan padat penduduk mendorong Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Kutai Kartanegara (Kukar) melahirkan terobosan baru dalam penanganan kebakaran. Melalui pilot project sistem hidran kering di Tenggarong, Damkar Kukar menguji pola pemadaman yang lebih efektif, efisien, dan realistis diterapkan di wilayah rawan kebakaran, khususnya permukiman pesisir dan kampung padat.

Kepala Disdamkartan Kukar, Fida Hurasani, mengatakan inovasi ini lahir dari kebutuhan nyata di lapangan, terutama di wilayah yang selama ini kesulitan akses air tawar saat terjadi kebakaran.

“Kami ingin memperlihatkan langsung kepada Bapak Wakil Bupati (Rendi Solihin) hasil dari apa yang sebelumnya beliau sampaikan kepada kami. Beliau melihat langsung kampung-kampung pesisir yang sangat rawan jika terjadi kebakaran,” ujar pria yang akrab disapa Afe’ ini saat uji coba sistem tersebut, Rabu (7/1).

Menurutnya, selama ini pola pemadaman di wilayah pesisir menghadapi kendala serius. Sumber air yang tersedia umumnya air laut dan air payau yang tidak bisa digunakan sembarangan karena memerlukan spesifikasi peralatan khusus akibat kandungan garam. Sementara jaringan PDAM memiliki keterbatasan kapasitas dan tekanan yang tidak merata di setiap wilayah.

Berangkat dari kondisi geografis tersebut, Disdamkartan Kukar berinisiatif mengoptimalkan peralatan yang sudah dimiliki, terutama mesin pompa, dengan menyiapkan jaringan pipa berstandar khusus. Fokus utama pengembangan sistem ini adalah memastikan aliran air tetap kuat, aman, dan berkelanjutan saat digunakan dalam kondisi darurat.

“Persoalan utama sebenarnya ada di jaringan pipa. Kami sempat bingung menentukan spesifikasinya, sampai akhirnya mendapat masukan untuk menggunakan pipa dengan standar tertentu yang lebih aman,” jelasnya.

Hasil uji coba hidran kering ini dinilai melampaui ekspektasi. Dengan tekanan tertentu, aliran air mampu menjangkau hampir satu kilometer, sehingga dinilai cukup efektif untuk menjangkau wilayah permukiman padat.

“Alhamdulillah, hasil uji coba hari ini di luar ekspektasi kami. Jarak aliran air hampir satu kilometer. Menurut saya ini sudah berhasil, makanya saya berani mengajak Pak Wakil Bupati melihat langsung,” kata Afe’.

Sistem hidran kering ini dirancang sederhana dan manual agar mudah diterapkan di berbagai wilayah Kukar tanpa bergantung pada infrastruktur kompleks. Selama tersedia sumber air, mesin pompa, dan pipa dengan spesifikasi yang tepat, Afe’ menyebut sistem ini dapat berfungsi optimal.

“Kami tidak ingin terlalu muluk-muluk. Sistem ini sederhana, tidak ribet, tapi fungsional,” ujarnya.

Afe’ juga menyoroti pentingnya aspek keselamatan jangka panjang. Penggunaan pipa biasa dengan tekanan tinggi, kata dia, berisiko mengalami kerusakan dalam jangka waktu tertentu. Karena itu, pihaknya memilih formula yang dinilai paling realistis dan aman—bahkan dapat diterapkan di kecamatan lainnya.

Ia menambahkan, sistem hidran kering ini bukan sekadar antisipasi di atas kertas, melainkan bentuk kesiapsiagaan aparat dalam menghadapi potensi kebakaran di wilayah rawan.

“Kunci utama pemadam kebakaran adalah ketersediaan air. Masih ada kawasan rawan di Tenggarong dan wilayah lain yang sudah kami petakan, dan jangan sampai kami dianggap melakukan pembiaran,” tegasnya.

Dengan jangkauan hampir satu kilometer, satu titik hidran kering disebut mampu menjangkau hingga dua RT. Namun, Fida mengingatkan adanya tantangan pada aspek perawatan dan partisipasi masyarakat.

Kapasitas air yang dibawa mobil pemadam disebut Afe’ sangat terbatas. Tanpa dukungan sistem hidran kering, penanganan kebakaran di satu hingga dua RT tidak dapat dijamin optimal. Sebaliknya, dengan sistem ini, selama pasokan air dan bahan bakar mesin tersedia, air untuk pemadaman tidak akan habis.

“Kami berharap masyarakat tidak merusak atau mengutak-atik fasilitas ini. Meski terlihat sepele, ini menyangkut keselamatan banyak orang,” tandasnya. (moe)

Editor : Indra Zakaria