PROKAL.CO, TENGGARONG - Banyaknya insiden kebakaran yang seringkali terjadi akibat korsleting listrik di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong pemerintah daerah setempat tidak berdiam diri. Salah satu upaya mereka berinovasi menekan angka kebakaran di permukiman padat adalah hydrant kering, yang menjadi pilot project Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar di Kecamatan Tenggarong.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin meninjau langsung hydrant kering yang mulai dioperasikan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) di Kota Raja, Rabu (7/1). Bersama Kepala Disdamkarmatan Kukar Fida Hurasani dan Plt Kepala Dinas Perumahan dan Permukiman Muhammad Aidil, Rendi memastikan bahwa hydrant kering ini dapat mempermudah penanganan kebakaran di jantung ibukota Kutai Kartanegara.
“Sebelumnya, hydrant di beberapa titik masih menggunakan tekanan air dari PDAM, yang berpotensi merusak jaringan perpipaan di rumah-rumah warga. Inovasi dari Kadisdamkarmatan ini yang pertama di Kukar, dan telah digunakan di kota-kota besar Indonesia,” ungkap Rendi.
Hydrant kering sendiri adalah hidran pemadam barel kering, yang dipisahkan dari sumber air bertekanan oleh katup utama yang ada di bagian bawah tanah. Sehingga bagian atas tetap kering sampai katup utama dibuka dengan menggunakan alat khusus oleh damkar atau tenaga ahli lainnya. Tidak ada katup di saluran keluar air.
Kehadiran hidran kering ini sudah digunakan di kota-kota besar di Indonesia. Rendi memastikan bahwa Kukar secara bertahap juga akan menggunakannya tersebar di 20 kecamatan—khususnya wilayah padat penduduk. Mengingat di wilayah kampung padat penduduk, akses jalan sering kali sempit dan tidak semua kendaraan bisa masuk. Sehingga saat terjadi kebakaran atau musibah lainnya, penanganannya menjadi sulit.
“Kami juga memiliki banyak kampung yang masuk kategori kumuh. Secara spesifik, jumlah titik kampung kumuh di Kukar lebih dari 30 titik. Dalam satu desa, bisa terdapat satu atau dua titik kampung, bahkan ada desa yang tidak memilikinya sama sekali. Wilayah-wilayah inilah yang menjadi perhatian karena rawan jika terjadi musibah,” lanjutnya.
Rendi menyebut, saat ini Pemkab Kukar sudah memiliki empat unit mesin hydrant kering. Namun, kendalanya ada pada biaya pipanisasi yang cukup mahal. Karena itu, pipanisasi ini akan kami upayakan secara bertahap, terutama untuk wilayah perkotaan terlebih dahulu.
“Insya Allah semua kecamatan di Kukar akan menerapkan hidran kering juga secara bertahap,” tutupnya. (moe)
Editor : Indra Zakaria