Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Burung Collared Kingfisher Bisa Ditemukan di TNK, Raja Udang Pesisir yang Eksotis dan Jadi Indikator Kesehatan Alam

Redaksi • 2025-05-02 11:00:00
Collared Kingfisher atau dikenal secara ilmiah sebagai Todiramphus chloris
Collared Kingfisher atau dikenal secara ilmiah sebagai Todiramphus chloris

Burung Collared Kingfisher atau dikenal secara ilmiah sebagai Todiramphus chloris adalah salah satu jenis raja udang yang paling mudah dikenali karena ciri khasnya. Yakni bulu biru kehijauan yang berkilau dan lingkar putih menyerupai kerah di lehernya.

Dikenal sebagai penghuni setia kawasan pesisir, burung ini tidak hanya menarik dari sisi visual, tetapi juga memegang peran penting dalam keseimbangan ekosistem perairan dangkal dan hutan mangrove. Tak heran jika Collared Kingfisher kini banyak menjadi objek pengamatan bagi para birdwatcher hingga fotografer alam.

Asal-usul Nama dan Ciri Ilmiah

Nama “collared” diambil dari tampilan fisiknya, yaitu garis putih seperti kerah yang melingkari lehernya. Sementara itu, nama ilmiahnya chloris diambil dari bahasa Yunani yang berarti ‘hijau pucat’, meski warna burung ini justru lebih dominan biru terang. Burung ini merupakan bagian dari keluarga Alcedinidae, atau famili raja udang, yang tersebar di seluruh dunia.

Ciri Fisik dan Karakter Unik

Burung Collared Kingfisher memiliki paruh besar dan kuat, mata tajam, serta kaki yang kokoh untuk bertengger di dahan mangrove. Warna biru mengilap di bagian atas tubuh berpadu kontras dengan putih di bagian dada dan bawah tubuh, menjadikannya salah satu burung pesisir paling ikonik di Asia Tenggara.

Berbeda dari raja udang lainnya yang biasanya berwarna oranye atau hijau neon dan tinggal di tepian sungai, Collared Kingfisher lebih besar, berpostur gagah, dan lebih menyukai wilayah pesisir hingga tebing pantai.

Habitat dan Sebaran Luas

Collared Kingfisher tersebar mulai dari India, Asia Tenggara, Filipina, hingga ke Australia dan Kepulauan Pasifik. Di Indonesia, burung ini mudah ditemukan di sepanjang garis pantai, terutama di hutan mangrove, rawa, dan ladang pesisir.

Wilayah persebaran yang luas ini membuktikan daya adaptasi luar biasa burung ini terhadap lingkungan pesisir yang kerap berubah karena pasang surut air laut.

Spesialis Ekosistem Mangrove

Burung ini sangat menyukai hutan mangrove karena menyediakan banyak titik bertengger dan lokasi bersarang. Selain itu juga menyediakan sumber makanan seperti ikan kecil, kepiting, dan serangga air.

Collared Kingfisher diketahui mampu menangkap mangsa dengan kecepatan tinggi dan presisi tinggi setelah menunggu diam di dahan mangrove. Adaptasi unik lainnya adalah kemampuannya untuk bertahan di lingkungan asin dan licin, berkat kaki yang kuat dan gaya terbang yang gesit.

Perilaku Teritorial dan Musim Kawin

Burung ini dikenal sangat teritorial dan cenderung hidup sendiri atau berpasangan. Wilayah kekuasaannya bisa mencapai ratusan meter dan dijaga dengan agresivitas tinggi, baik secara verbal maupun fisik.

Saat musim kawin, Collared Kingfisher membangun sarang di lubang pohon mati atau tebing tanah liat. Sepasang burung akan berbagi tugas dalam mengerami telur dan merawat anak-anak mereka, menunjukkan kerja sama yang kuat dan pola hidup monogami.

Lokasi Terbaik Mengamati Collared Kingfisher

Beberapa lokasi birdwatching terbaik di Indonesia untuk melihat spesies ini antara lain:

Taman Nasional Kutai, TNK (Kalimantan Timur)
Pesisir Sulawesi
Hutan Mangrove Pulau Seram
Taman Nasional Wasur (Papua Barat)
Di tempat-tempat ini, pengunjung dapat melihat langsung burung Collared Kingfisher dalam aktivitas alaminya.

Etika Pengamatan dan Peran Edukatif

Pengamatan burung harus dilakukan tanpa mengganggu habitat. Hindari penggunaan lampu kilat, suara keras, dan jangan meninggalkan sampah. Etika birdwatching bukan hanya untuk kenyamanan burung, tapi juga untuk pelestarian habitat.

Bila Anda seorang pengamat burung, pastikan berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang kelestarian kekayaan hayati Indonesia (***)

 

Editor : Indra Zakaria