Infeksi virus ini ditandai dengan bintil bernanah di kulit. Penularannya dari manusia ke manusia. Tetapi sumber virusnya berasal dari hewan pengerat dan primata. Seperti monyet, tikus, tupai dan lainnya. "Tergolong dalam penyakit zoonosis, cacar monyet ditularkan lewat perantara hewan. Tetapi juga tidak menutup kemungkinan menyebar dari manusia ke manusia," jelas Tabiun.
"Jika mengalami gejala demam dan ruam, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat," katanya. Sesuai surat edaran Dirjen P2P Kementerian Kesehatan Nomor HK.02.02/C/2160/2024, pemda diminta meningkatkan pemeriksaan di pintu-pintu masuk. Seperti pelabuhan dan bandara. Tabiun berjanji edaran itu akan dijalankan.
Terpisah, Kepala Bidang Pelayanan Medik RSUD Ansari Saleh, Ida Hayati mengatakan pasien suspek dirawat sejak 29 Agustus 2024. Pasien tersebut menunjukkan gejala mengkhawatirkan. Seperti lesu, demam, ruam, dan pembengkakan kelenjar getah bening. "Kriteria ini mengarah ke cacar monyet, sehingga pasien kami curigai," kata Ida.
Dari serangkaian pemeriksaan laboratorium, dilakukan. Hasilnya keluar pada 30 Agustus tadi, pasien dinyatakan negatif cacar monyet. Sebagai langkah mitigasi, pasien tetap ditempatkan pada ruang isolasi hingga benar-benar pulih. "Kami tetap mengikuti protokol WHO," imbuh Ida.
Terkait gejala yang mirip cacar monyet, Ida menegaskan itu akibat gangguan imunitas pasien. "Disebabkan karena imunitas pasien dari pengobatan sebelumnya. Jadi bukan karena MPOX," tegasnya.
Cacar monyet pertama kali masuk ke Indonesia pada 2022. Dari satu kasus, meningkat hingga 73 kasus pada tahun 2023. “Meski 2024 menurun jadi 14 kasus, kami tetap waspada dan mengikuti aturan WHO,” tutup Ida. (*)