Proyek fisik di Jalan Wolter Monginsidi diklaim menjawab keinginan warga untuk mendapatkan badan jalan yang mulus.
KELUHAN warga Balikpapan Barat atas proyek pembangunan drainase dan jalan di Jalan Wolter Monginsidi mendapat respons DPRD Balikpapan. Ketua Komisi III Alwi Al Qadri mengatakan, pihaknya menerima berbagai keluhan. Mulai dari soal ketebalan peninggian jalan hingga pekerjaan drainase yang bengkok.
Alwi mengatakan, warga mengeluh tentang ketebalan jalan yang mereka anggap terlalu tinggi dibanding rumah sekitar. Sementara, rumah sudah dibangun 30-40 tahun lalu. Itu yang membuat posisi rumah lebih rendah, ketika bangunan jalan memiliki tinggi yang mencolok.
“Tapi prinsipnya, kalau mau maju kan harus memperbaiki jalan. Kalau mengikuti rumah yang lama agak repot juga,” ucapnya usai meninjau lokasi proyek yang satu bulan terakhir viral, Senin (14/8). Politikus Partai Golkar ini menyebutkan, pembangunan drainase dan perbaikan jalan merupakan usulan Komisi III.
Khususnya Alwi dan Kamaruddin yang merupakan wakil rakyat dapil Balikpapan Barat. Dia bercerita, awalnya warga mengeluhkan kondisi jalan rusak. Namun, anggota dewan dianggap hanya diam saja. Itu yang membuat Komisi III mengusulkan perbaikan di Kampung Baru Ujung tersebut.
“Tapi ketika kami perbaiki, sekarang masyarakat mengeluh. Kami juga bingung,” sebutnya. Dia menjelaskan, perbaikan jalan memang harus melakukan peninggian jalan. Bahkan minimal 27 sentimeter. Sebab, kalau lebih rendah justru tidak membuat usia jalan lebih lama.
“Ada kontainer dan kendaraan besar lewat sini. Kalau peninggian jalan di bawah 20 sentimeter mungkin hanya 5 bulan jalanan hancur lagi,” bebernya. Sedangkan terkait drainase yang bengkok, Alwi melihat semata-mata karena terbentur pipa induk dan tiang PLN.
Sejauh ini, PLN sudah diminta memindahkan utilitas. Namun, tak kunjung ada respons. Padahal, proyek harus tetap berjalan dan tak mungkin menunggu pemindahan utilitas. “Kalau tidak cepat warga bisa kebanjiran karena drainase sudah dibongkar. Maka dibuat sedikit membengkok menyesuaikan kondisi tiang PLN,” ujarnya.
Alwi menambahkan, tentu kalau tidak ada penyebab tak mungkin kontraktor sengaja membuat drainase bengkok. Dia memastikan, drainase yang bengkok hanya sedikit saja dan tidak berpengaruh. Hal yang penting, drainase masih selevel dengan jalan. Kini dia mengakui, bingung dengan keinginan masyarakat.
“Kita perbaiki salah, kalau kita biarkan tidak perbaiki juga lebih salah lagi,” imbuhnya. Walau banyak masyarakat yang senang melihat ada perbaikan jalan. Mengingat tingkat kerusakan parah karena sudah berlubang. Menurutnya jika warga berpikiran positif, seharusnya saat ada perbaikan jalan justru menyambut senang.
“Bukan malah sebaliknya. Sedikit salah komplain dan begitu terus. Jadi serbasalah, kerja di sini harus kerja keras bagi kontraktor,” tuturnya. Dia berharap, proyek bisa rampung secepatnya dan mendapat dukungan dari masyarakat. Alwi mengingatkan, perbaikan jalan ini untuk kondisi jangka panjang.
Termasuk mengantisipasi banjir. Sehingga, jalan dibuat tinggi agar bisa melakukan evakuasi saat ada bencana. Begitu pula perbaikan drainase untuk membuat arus air dari hulu ke hilir. “Berpikirnya 5-10 tahun mendatang. Apalagi kita penyangga IKN. Kalau pembangunan sudah jalan, kita tidak bisa hindari,” ucapnya.
Sebagai informasi, targetnya pekerjaan ini rampung pada 13 September. Sebelumnya, Pengendali Proyek Dinas PU Damrin mengatakan, pengecoran Jalan Wolter Monginsidi memiliki panjang 240 meter dan mengalami peninggian 42 sentimeter. Ini sudah berdasarkan kajian dan kebutuhan jalan.
“Peninggian harus dilakukan agar usia jalan lebih panjang,” katanya. Termasuk standar ketinggian jalan untuk antisipasi bencana banjir. Sehingga saat terjadi bencana, daerah ini masih bisa mendapat bantuan dan tidak terisolasi. (ms/k15)
DINA ANGELINA
dinaangelina6@gmail.com
Editor : izak-Indra Zakaria