Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Kaltim Bola Daerah Kriminal Nasional Lifestyle Bisnis Sport

Kartini Muda di Tubuh Polres Kukar; Ipda Fabiola Umaida dan Kegigihannya Mewujudkan Emansipasi Wanita

Elmo Satria Nugraha • Selasa, 21 April 2026 | 17:52 WIB

Kanit Kamsel Satlantas Polres Kukar, Ipda Fabiola Umaida (Elmo/Prokal.co)

Kanit Kamsel Satlantas Polres Kukar, Ipda Fabiola Umaida (Elmo/Prokal.co)

21 APRIL sudah terpatri di kehidupan masyarakat Indonesia sebagai Hari Kartini. Sosok perempuan bernama lengkap Raden Ajeng Kartini ini sudah hidup di semua perempuan Indonesia karena gagasan-gagasannya. Tentang pendidikan, kebebasan berpikir, dan kesetaraan membuka jalan dan merubah cara pandang terhadap perempuan di seluruh penjuru Indonesia.

Karena gagasannya ini, Kartini ditetapkan sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah dan hari lahirnya menjadi peringatan nasional. Yang hari ini bukan sekedar peringatan simbolik, melainkan penanda lahirnya kesadaran bahwa perempuan berhak atas kesempatan yang sama. Gagasan Kartini terus hidup di seluruh perempuan melawan arus ketimpangan, diskriminasi, stereotip, dan tekanan budaya patriarki.

PROKAL.CO, TENGGARONG - Semangat Kartini juga hidup di tubuh Kepolisian Resor (Polres) Kutai Kartanegara (Kukar) pada sebuah perwira muda bernama Ipda Fabiola Umaida. Wanita berusia 23 tahun ini berasal dari Lampung, namun per tahun 2024 kemarin telah mengabdi sebagai utusan Polri di Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). 

Mengabdi di tanah rantauan, perkenalan Fabiola di Bumi Etam sudah dimulai sejak ia masih menjadi taruni. Pada Latsitarda Nusantara XLIV/2024 yang dilaksanakan pada tahun 2024, Fabiola menjadi satu dari ribuan taruna Akmil, Akpol, maupun IPDN yang mengabdi di Kaltim. Fabiola sendiri menunaikan tugasnya di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang juga menjadi lokasi Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Kami sudah mengabdi di Kaltim ini sejak tahun 2024, dan kebetulan dari masa taruna,” cerita Fabiola kepada Prokal.co, Selasa (21/4/2026).

Wanita kelahiran 23 Mei 2002 ini sangat terkenal di dunia maya. Paras cantik nan tomboi menjadi daya tarik utama Fabiola, bahkan membuat ia memiliki hingga 200 ribu lebih pengikut di platform Instagram. Di balik pesona tomboi Fabiola, terdapat kegigihan kuat serta jiwa sosial tinggi.

Lahir sebagai bungsu dari tiga bersaudari, Fabiola menjadi satu-satunya anggota Polri di keluarganya. Besar dari ayah pensiunan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan ibu yang fokus mengurus rumah tangga, Fabiola memiliki cita-cita mulia. Yakni menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama khalayak.

“Sejak dulu saya memang bercita-cita menjadi polisi. Saya merasa profesi ini sesuai dengan passion saya, karena saya senang berinteraksi dengan masyarakat dan ingin bisa bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya.

Profesi sebagai aparat penegak hukum dinilai sangat tepat dengan minat Fabiola yang tumbuh sejak kecil. Sebagai Polri, Fabiola menjunjung tinggi tugas melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat. Minat ini tumbuh dari kebiasaan lamanya, berinteraksi serta bergaul dengan banyak orang.

Mengabdi sebagai Polri di Bumi Etam, Fabiola memulai karirnya di Polda Kalimantan Timur. Saat awal bertugas, ia ditempatkan di Samapta, kemudian di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Kaltim selama lebih dari satu tahun. Sampai dengan sekarang di Satlantas Polres Kukar.

Karakteristik masyarakat dan wilayah Kalimantan Timur sudah tidak asing bagi Fabiola. Mengawali masa dinasnya di ibukota masa depan Indonesia dengan pengalaman berkesan, Fabiola menilai Kaltim sebagai wilayah dengan lingkungan nyaman dan masyarakat ramah.

“Setelah lulus Akpol kami sudah siap ditugaskan dimana pun. Dan saat tau ditempatkan di Kaltim, dengan pengalaman sangat berkesan. Saya merasa sangat bersyukur,” tutur Fabiola.

Mengabdi sebagai anggota Polri sudah menjadi pilihan hidup Fabiola, sehingga hidup sebagai perantau tidak terasa berat. Di Kaltim, khususnya Kukar, keluasan wilayah dengan berbagai karakteristiknya justru menjadi tantangan sekaligus kesempatan bagi Fabiola untuk lebih mengenal masyarakat.

Keberhasilan Fabiola menjadi anggota Polri tidak lepas dari derasnya dukungan dan doa orang tuanya. Pun tingginya kepercayaan diri di media sosial maupun bertugas dibentuk oleh lingkungan yang terus mendukungnya. Untuk menjadi pribadi yang terus menjaga sikap dan memberikan contoh yang baik. 

“Kuncinya adalah tetap menjadi diri sendiri, karena ketika kita mencoba menjadi orang lain, kita justru akan kehilangan karakter diri,” tegasnya.

Lingkungan terbukti menjadi kunci keberhasilan Fabiola mencapai titik ini. Lingkungan ini adalah warisan Kartini untuk seluruh perempuan di Indonesia. Di lingkungan Polri yang saat ini masih didominasi oleh laki-laki, perempuan seperti Fabiola bisa berdiri setara—sama-sama menjadi pelayan masyarakat.

Tidak terpengaruhi budaya patriarki, semangat Kartini tetap hidup bersama Fabiola. Di tengah lapangan yang didominasi laki-laki, ia tetap ikut mengambil keputusan dan menentukan pilihan hidupnya. Fabiola melanjutkan perjuangan Kartini, menjaga emansipasi perempuan untuk tidak berhenti pada kesempatan, tetapi juga tentang keadilan dalam perlakuan dan penghargaan.

“Dalam memaknai Hari Kartini, saya melihat bahwa perempuan juga memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi. Bukan soal kesetaraan semata, tetapi bagaimana perempuan bisa berperan dan berkarya di berbagai bidang,” beber Fabiola.

Fabiola turut menegaskan bahwa perempuan tidak hanya terbatas pada peran tertentu. Tetapi juga bisa berpartisipasi dalam pembangunan dan pengabdian kepada negara. Pun ia memastikan semua pencapaiannya ini tidak lepas dari doa dan dukungan orang tua, yang sudah percaya dengan dirinya dari nol.

“Motivasi terbesar saya adalah orang tua. Mereka selalu menjadi penguat dalam setiap langkah yang saya ambil. Dan mereka selalu berpesan agar saya bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil,” ucapnya.

Semua perempuan memiliki kesempatan yang sama. Pesan ini sangat dimaknai Fabiola untuk seluruh perempuan muda di Indonesia. Untuk tidak gampang menyerah terhadap keadaan maupun lingkungan, namun untuk tetap percaya diri mengejar mimpinya.

“Setiap orang berhak untuk meraih cita-citanya, terlepas dari latar belakang atau gender. Yang terpenting adalah tetap menjadi diri sendiri dan berpegang pada prinsip dalam menjalani kehidupan,” pungkas Fabiola.

Kisah Fabiola menjadi bukti bahwa emansipasi yang diperjuangkan Kartini bukan sekadar wacana. Ia adalah praktik sehari-hari—tentang keberanian mengambil keputusan, konsistensi menjaga prinsip, serta tanggung jawab atas pilihan hidup.

Kartini masa kini tidak selalu tampil dengan label aktivis. Ia bisa jadi pekerja, ibu rumah tangga, pemimpin, atau pelajar yang berani bersuara. Perjuangannya hadir dalam bentuk sederhana: menolak diskriminasi, memperjuangkan hak, dan membuka jalan bagi generasi berikutnya.

Di tengah deru dan rutinitas tugas di kepolisian, sosok seperti Fabiola menjadi pengingat bahwa perjuangan Kartini belum usai ia hanya berganti wajah, di ibu kita, saudari kita, maupun seluruh perempuan yang ada di negeri ini. Kini, ia hadir dalam langkah-langkah pasti perempuan yang berani menembus batas, berdiri setara, dan mengambil peran.

Hari Kartini, pada akhirnya, bukan lagi tentang mengenang masa lalu. Ia hidup di hari ini—pada setiap perempuan yang memilih maju, meski jalan belum sepenuhnya rata. Semangat Kartini tetap relevan—bukan untuk dikenang, tetapi untuk diteruskan. (moe)

Editor : Rahman Hakim
#polres kukar #hari kartini #tenggarong