Merajut Asa di Balik Jeruji, Lapas Perempuan Tenggarong Terus Menjaga Semangat Kartini
Elmo Satria Nugraha• Selasa, 21 April 2026 | 19:11 WIB
Pembinaan Lapas Perempuan Tenggarong yang disaksikan langsung oleh Bupati Kukar Aulia Rahman Basri (Istimewa)
PROKAL.CO, TENGGARONG - Di balik dinding tinggi dan pintu besi yang terkunci, semangat Kartini tetap hidup. Perempuan-perempuan di Lapas Perempuan Kelas II Tenggarong merajut harapan, membangun kembali masa depan yang sempat terhenti.
21 April selalu melekat di kehidupan masyarakat Indonesia sebagai Hari Kartini. Hari ini tak hanya diperingati di ruang-ruang seremonial, di Lapas Perempuan Kelas II Tenggarong, maknanya terasa lebih dalam. Tentang bangkit, belajar, dan memperjuangkan hidup dari titik terendah.
Di satu-satunya lapas perempuan di wilayah Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang dipimpin Riva Dilyanti ini. Ratusan perempuan menjalani masa pembinaan dengan cerita hidup yang beragam—namun di balik itu, persoalan kapasitas menjadi tantangan nyata. Lapas yang idealnya menampung 135 orang, kini dihuni sekitar 359 warga binaan.
“Warga binaan berasal dari berbagai wilayah Kaltimtara, bahkan ada juga dari luar daerah,” ujarnya saat ditemui, Selasa (21/4/2026).
Meski dalam kondisi over kapasitas, proses pembinaan tetap berjalan. Bagi Riva, pembinaan bukan sekadar rutinitas, tetapi upaya memulihkan harapan dan martabat perempuan.
“Pembinaan di lapas terdiri dari tiga unsur, yakni petugas pemasyarakatan, warga binaan, serta dukungan masyarakat dan pemerintah daerah,” jelasnya.
Di dalam lapas, pembinaan dibagi dalam dua aspek utama: kepribadian dan kemandirian. Untuk kepribadian, warga binaan dibekali pembinaan rohani dan penguatan karakter melalui kerja sama dengan Kementerian Agama dan berbagai yayasan.
Sementara itu, pembinaan kemandirian diarahkan pada keterampilan nyata yang bisa menjadi bekal hidup setelah bebas.
“Kami melakukan asesmen minat dan bakat warga binaan, lalu memfasilitasi pelatihan yang sesuai dan memiliki peluang di pasar setelah mereka bebas,” katanya.
Beragam kegiatan pun dijalankan. Mulai dari pertanian hidroponik, laundry, salon, tata boga, hingga kerajinan tangan. Bahkan, pelatihan menjahit dilakukan bekerja sama dengan BPVP Kalimantan Timur.
Di sudut lain, ada pula aktivitas literasi. Warga binaan saling berbagi buku dan pengetahuan, membangun ruang belajar di tengah keterbatasan.
Di balik jeruji, kisah-kisah kehidupan itu tak selalu mudah. Sekitar 80 persen warga binaan terjerat kasus narkotika. Banyak di antaranya, kata Riva, terpaksa mengambil jalan pintas karena tekanan ekonomi. Hal ini yang menjadi bekal kuat jajaran Riva untuk terus membina warga binaannya.
“Kami ingin mengubah pola pikir mereka bahwa sesuatu yang didapat secara instan tidak akan memberikan hasil yang baik,” ujarnya.
Perlahan, perubahan mulai terlihat. Sejumlah warga binaan yang telah bebas kini mulai merintis usaha kecil, dari membuat kue, katering, hingga jasa permak pakaian. Pun Lapas Perempuan Tenggarong juga terus membina sampai dengan warga binaannya kembali hidup bermasyarakat.
Perjalanan mereka tidak berhenti di pintu lapas. Dukungan dari masyarakat dan pemerintah daerah menjadi kunci agar mereka benar-benar bisa kembali dan diterima. Baik dalam bentuk bantuan modal, maupun peralatan agar mereka bisa kembali hidup mandiri.
Momentum Hari Kartini tahun ini menjadi pengingat kuat bagi seluruh penghuni lapas. Bahwa menjadi perempuan berarti tetap memiliki kesempatan untuk bangkit, apa pun masa lalu yang pernah dilalui.
“Momentum Hari Kartini ini menjadi pengingat bahwa perempuan, termasuk warga binaan, tetap memiliki kesempatan untuk bangkit, mandiri, dan berkontribusi positif di masyarakat. Kami harap masyarakat bisa menerima warga binaan kami,” pungkas Riva.
Di tempat yang membatasi kebebasan, justru lahir tekad bersama untuk merdeka—merdeka dari masa lalu, dan berani menatap masa depan. (moe)