Oleh: Royyan Fadh
Saat terik, air laut sedang surut, Dika menjejakkan kaki di atas pasir yang masih menyisakan basah. Lubang-lubang kecil beserta batu maupun kerang aneka warna dan rupa hadir di sekelilingnya, yang sebelumnya diketahui tenggelam, kini terlihat jelas. Ia kemudian duduk di batang pohon ketapang yang telah ambruk dan lapuk.
Ada keraguan yang menghalangi Dika meneruskan langkahnya menuju rumah yang berada tak jauh dari pantai itu. Sulit rasanya menerima kenyataan bahwa di sana, tak ada lagi masakan ibu, pelukan ibu, suara ibu, bahkan sekadar sosok ibu. Rumah tanpa ibu rasanya hanyalah rumah hantu; kosong dan sunyi. Namun, kepulangannya yang telah menempuh jarak panjang dan menguras kantong yang tak sedikit itu ditujukan untuk menengok satu-satunya orangtua yang kini ia miliki; bapak.
Tiada kedekatan secara emosional dengan bapak, hanyalah emosi yang muncul setiap berdekatan. Pria berambut panjang sebahu itu menghirup napasnya dalam-dalam dan menghelanya pelan-pelan. Sulit untuk bisa selapang tiupan angin pantai. Ada banyak hal yang masih menyesakkan dalam ingatannya terkait bapak yang pemarah, serupa monster. Rasa takut Dika bertambah mengingat kali ini ia harus berhadapan dengan bapak sendirian. Padahal biasanya ada ibu.
Dari tas selempangnya, Dika mengeluarkan ponselnya, membaca kembali pesan yang dikirim bapak seminggu lalu, seolah-olah masih tak percaya; apa kabar? Rasanya tak pernah bapak seperti itu, biasanya hanya ibu yang selalu menanyakan kabarnya. Apakah bapak sudah berubah atau sebenarnya ada maksud tertentu? Sampai saat ini pun, Dika enggan menjawab pertanyaan bapak, masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain di kepalanya yang rasanya perlu ia jawab terlebih dahulu.
Dari selempang biru tua itu juga, Dika mengambil sebuah TWS (True Wireless Stereo) dan memasangkannya di salah satu kupingnya. TWS itu tersambung lewat bluetooth ponsel pintarnya. Dika lalu memutar sebuah lagu dari James Blunt yang sering kali menemaninya kala di kamar indekos sendirian.
Diiringi debur ombak, pria lajang itu bernyanyi dengan suara yang cukup nyaring mengikuti lirik yang berbunyi i'm not your son, you’re not my father, we’re just two grown men saying goodbye. Suara yang tak menghiraukan tangga nada itu redam terbawa angin pantai. Ada sedikit senyuman terpancar ketika melantangkannya, seolah-olah ia benar-benar mampu terbebas dari hubungan darah, selayaknya telah memutuskan pacar hingga membuat seseorang bergelar mantan.
Begitu lirik memasuki kalimat the time has gone, mulut Dika merapat. Tak dapat dimungkiri, waktu yang berlalu pergi itu sudah menyisakan sesuatu. Perihnya masih terasa, hampir ada selalu. Bagaikan sayatan-sayatan kecil hingga menjadi luka besar yang menganga. Bapak selama ini memang tidak menyakitinya secara fisik tetapi melalui kata-kata yang rasanya jauh lebih perih.
"Don’t be afraid, it’s my turn, to chase the monsters away," ucap Dika dengan suara kecil dan lirih. Di hadapan asinnya air laut, air matanya yang juga asin itu mengalir di pipinya. Andai saja itu merupakan suatu monster yang bisa ia hadapi bersama bapaknya, mungkin rasanya akan lebih mudah. Namun, monster yang harus dihadapinya kini ialah bapaknya sendiri.
Teringat jelas ketika bapak membanting meja lipatnya sampai tak punya kaki hanya karena ia tak mendengar suara panggilannya yang tertutupi suara televisi, atau bentakan-bentakan lainnya karena ia melakukan hal yang tak sesuai harapan bapak. Semua itu masih terngiang di kepala Dika. Bahkan, sejak kecil ia sudah ketakutan ketika mendengar suara motor bapak, bukannya menanti di depan pintu masuk, Dika malah pergi berlari ke kamar, menjauhkan diri dari sosok itu.
"Mati aja kamu!" ucapan bapak itu seolah-olah telah menusuk tubuhnya dengan sebilah pedang. Pedang yang masih menancap sampai sekarang. Entah bagaimana melepaskannya.
Padahal waktu itu Dika hanya mencoba mengungkapkan perasaannya secara jujur, bahwa ia terkadang berpikiran untuk segera mati. Dari perkataan yang tampak bodoh itu, ia sebenarnya hanya lelah harus terus-menerus diomeli dengan bentakan seakan-akan kehadirannya tidak diinginkan. Lelah, pada apa pun yang diperbuatnya dan seakan-akan selalu salah, mengecewakan, tanpa sedikit pun dapat dibanggakan.
Dika masih duduk di sana, di atas pohon rubuh itu, dan memilih memutar kembali lagu berjudul monster itu berkali-kali. Saat tiba kembali pada lirik no need to forgive, no need to forget, i know your mistakes and you know mine, ia mulai membasuh pipinya yang menyisakan basah.
Untungnya dunia tidak hanya seluas satu kaveling tanah berserta rumahnya. Pekerjaannya di luar kota, membuatnya bertemu lebih banyak manusia beserta sebagian ceritanya. Ia bersama mereka, orang-orang yang sedang jauh dari rumahnya masing-masing, bertemu untuk saling menggantikan rumah satu sama lain. Namun, tetap saja, tiada rumah yang sempurna selayaknya tidak ada manusia yang sempurna.
Curang, ibu curang karena mati lebih dulu, harusnya Dika, Bu, batin Dika berseteru.
Bagi Dika, pelukan ibu adalah obat yang mampu membasuh luka-lukanya, kehangatan kecilnya. Di pangkuan ibu, ia bisa bebas menumpahkan air mata sepuasnya. Terkadang ibu mengelus kepalanya dan diikuti perkataan lembut yang selalu dirindukannya. Dika kini hanya bisa mengelus ulu hatinya sendiri sambil mengatakan hal yang sama seperti yang dulu ibu ucapkan pada dirinya. "Sudah, sudah ya, gak apa-apa."
Selanjutnya, pandangan Dika mengarah ke lautan luas di hadapannya. Jauh dari perairan itu, ada daratan lain, ada kehidupan lain yang tak terlihat dari tempatnya duduk. Mungkin begitu pun dengan perhatian bapak. Hanya kepedulian dari ibu yang tampak jelas dari pandangannya. Mungkin saja selama ini bapak juga sebenarnya peduli dengan caranya sendiri sehingga kepedulian itu samar di matanya.
Tiada kebencian yang sempurna selayaknya tidak ada manusia yang sempurna. Lewat ibu, kemungkinan bapak sudah cukup tahu kabar Dika, sehingga ketika ibu tiada maka bapak pun baru menunjukkan hal itu. Bapak memang jarang menunjukkan bentuk kasih sayangnya melalui kata-kata dan pelukan selayaknya sosok bapak yang biasanya ia saksikan di film barat, sosok kepala keluarga yang hangat.
Dika menolehkan pandangannya ke salah satu rumah di bukit yang berhadapan dengan pantai, meyakinkan dirinya untuk tetap lanjut berjalan. Bagaimana pun juga bapak telah berjasa untuknya. Apa pun kesalahannya, bapak tetaplah bapaknya. Lagi pula, tidak pernah ada yang namanya mantan bapak. (dwi/k8)
Editor : izak-Indra Zakaria