Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Rencana Maut

izak-Indra Zakaria • 2023-10-30 09:50:32
Photo
Photo

Oleh: Mei Riesda Putri

 

Maya namanya. Gadis berusia 16 tahun dengan perawakan yang tak seperti gadis remaja pada umumnya. Jika gadis-gadis seusianya berpenampilan menarik, mengenakan pakaian yang modis dan elegan, serta memiliki wajah yang cantik dan berkilau, maka berbeda dengan Maya. Maya sendiri memiliki penampilan yang kurang nyaman dipandang.

 

Tubuhnya kurus kering, pakaiannya pun terlihat kumal, aroma badannya tak sedap, terdiri dari bau keringat dan matahari, serta wajahnya dipenuhi jerawat. Semua hal itu karena Maya tak merawat tubuhnya.

 

Setelah pulang sekolah, biasanya Maya langsung membantu ibunya untuk mengumpulkan botol-botol bekas di tempat penampungan sampah yang tak jauh dari tempat tinggal mereka. Botol-botol tersebut kemudian dijual kepada para pengepul dan dihargai dua sampai tiga ribu rupiah per kilonya.

 

“Cobalah untuk membeli pakaian baru agar pakaianmu tidak itu-itu saja,” tutur ibu Maya sambil sibuk memasukkan botol-botol bekas ke dalam karungnya.

 

“Untuk apa membeli pakaian baru? toh yang ini masih bisa dipakai,” jawab Maya dengan ketus. Ia tak suka ibunya mulai mengatur dirinya.

 

“Baju itu sudah tidak layak pakai Maya. Cobalah untuk lebih memperhatikan penampilanmu sedikit, kau anak gadis yang telah berusia 16 tahun!” tegasnya kepada Maya.

 

Maya yang mendengar ocehan ibunya itu pun hanya bisa terdiam. Memang, selama ini ia tak pernah memerhatikan penampilannya, bukan karena tak mau, tapi karena ia sadar diri bukanlah orang yang memiliki banyak uang. Untuk makan sehari-hari saja sudah sangat sulit, apalagi untuk membeli pakaian baru.

 

Hari itu matahari berterik dengan semangatnya, membuat Maya dan ibunya harus berteduh sebentar di bawah tenda yang beratapkan terpal dan beralas karung-karung bekas. Mereka baru mendapatkan dua kilo botol-botol plastik. Biasanya dalam dua hari mereka harus mengumpulkan tiga kilo botol-botol bekas tersebut. Jika tidak, para pengepul akan menghardik mereka dan tak segan untuk tak memberi upah. Maya yang sedang mengibas-ngibaskan topinya tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya seorang anak perempuan yang berlari ke arah mereka.

 

“Tolong aku, aku dikejar oleh beberapa orang. Jika mereka menanyai kalian, tolong bilang bahwa kalian tak melihat aku,” tuturnya terburu-buru.

 

Belum sempat Maya menjawab, anak itu langsung melesat menaiki tumpukan sampah yang tingginya hampir 2 meter. Kemudian ia bersembunyi di balik gunung sampah tersebut. Tak lama kemudian, datang beberapa orang dengan napas tersengal-sengal. Di antara mereka ada yang membawa kayu, sapu, bahkan pisau untuk memotong ikan. Maya bergidik ngeri. Entah apa yang dilakukan anak tadi, sehingga membuat orang-orang ini marah.

 

“Hei kalian berdua! Apakah kalian ada melihat anak perempuan yang berlari ke arah sini?” tanya laki-laki yang membawa kayu di tangan kanannya.

 

“Tidak, kami tidak melihatnya,” jawab Ibu Maya datar.

 

“Jangan berbohong kepada kami. Jika tidak ke sini lantas anak itu pergi ke mana hah!” laki-laki yang membawa pisau mulai ikut berbicara.

 

“Kami tidak berbohong, lagi pula siapa yang mau bersembunyi di balik tumpukan sampah yang baunya sangat menyengat dan kotor ini?” tegas Maya yang berusaha untuk meyakinkan mereka. Ia sendiri pun tak habis pikir mengapa anak tadi mau bersembunyi di balik gunung sampah yang kotor dan bau itu.

 

Setelah mendengar pengakuan Maya, akhirnya orang-orang tersebut meninggalkan tempat pembuangan sampah. Anak perempuan yang sedari tadi bersembunyi di balik tumpukan sampah itu pun mulai memunculkan dirinya. Ia mendekati Maya dan ibunya untuk mengucapkan terima kasih.

 

“Terima kasih atas bantuan kalian. Bolehkah kita berkenalan?” tanyanya kepada Maya.

 

Keduanya pun saling berjabat tangan dan memperkenalkan diri masing-masing. Anak perempuan itu bernama Shally, ia mengenakan pakaian yang cukup bagus. Maya ingin bertanya kepadanya mengapa ia dikejar orang-orang tadi. Tetapi Shally tampak terburu-buru dan segera meninggalkan mereka berdua. Sebelum pergi, Shally sempat berbisik kepada Maya.

 

“Maya, jika kau ingin memiliki pakaian yang bagus, maka tunggulah aku besok di sini pukul tiga sore,” bisiknya. Maya yang mendengar hal itu pun merasa malu. Ia yakin bahwa pakaian yang ia kenakan sangatlah buruk, itulah sebabnya Shally mengatakan hal itu.

 

Keesokan harinya Maya menunggu Shally di tempat penampungan sampah. Ia memikirkan keputusannya ini semalaman dan memutuskan untuk mencoba apa yang Shally rencanakan. Hampir 15 menit ia menunggu, Shally pun datang dengan membawa tas ransel hitam di punggungnya.

 

“Halo Maya, apakah sudah lama menunggu?”

 

“Tidak terlalu lama.”

 

“Di mana ibumu? Mengapa ia tidak terlihat di sini?” tanyanya lagi sambil celingak-celinguk.

 

“Kami libur jika hari Minggu,” jawab Maya singkat.

 

“Ah, begitu rupanya. Baiklah, sekarang mari kita mulai rencananya. Jadi kau hanya perlu menemaniku ke pasar. Dan ingat, kau harus terus berada di dekatku jika tidak ingin terkena masalah,” Shally mengatakan itu dengan raut wajah yang serius.

 

Akhirnya mereka pun berangkat ke pasar, saat tiba di depan sebuah toko baju, Shally mengajak Maya masuk. Keadaan toko itu cukup ramai, dipenuhi dengan para wanita yang sibuk memilih baju-baju yang ada di rak.

 

“Tolong awasi sekitar, aku akan mulai memasukkan baju-baju ini ke dalam tas ranselku,” bisiknya kepada Maya. Maya yang mendengar hal itu pun terkejut bukan main. Ia tak menduga bahwa rencana Shally adalah mencuri baju-baju di toko ini.

 

“Apa kau sudah gila! Aku tak mau membantumu untuk urusan mencuri,” tutur Maya kepada Shally.

 

Namun, Shally tak menggubris ocehan Maya, ia sibuk memasukkan baju-baju yang ada di rak ke dalam tasnya. “Hei, apa kau dengar aku?” suara Maya terlalu keras, sehingga Maya tak sadar bahwa ada salah satu pengunjung yang melihat Shally memasukkan baju-baju itu ke dalam tasnya. Kemudian pengunjung itu meneriaki mereka sebagai maling dan orang-orang sekitar mulai berkumpul. Secepat kilat Shally keluar dari toko agar ia tak menjadi bulan-bulanan massa.

 

“Cepat Maya, jika tidak kita akan dihabisi oleh mereka,” tutur Shally sambil berusaha berlari secepat mungkin. Sayangnya Shally tak sadar bahwa Maya jauh tertinggal di belakang.

 

Maya berhasil ditangkap warga dan diikat di sebuah pohon di lapangan yang agak terbuka. Para warga pun mulai menyiramkan minyak tanah ke tubuh Maya. Maya menangis dan mengatakan bahwa ia bukan pencuri.

 

Namun, warga yang dikuasai oleh amarah tak menghiraukan omongan Maya. Mereka menganggap bahwa ia merupakan komplotan pencuri yang akhir-akhir ini meresahkan warga setempat. Minyak tanah mulai membasahi seluruh tubuh Maya. Salah satu warga pun melemparkan korek api ke tubuh Maya, dan api mulai melahap tubuh kurusnya dengan cepat. (dwi/k16)

 

 

Mei Riesda Putri, mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Unmul.

Editor : izak-Indra Zakaria
#cerpen