Pro Kalimantan Balikpapan Samarinda Bola Daerah Kriminal Bisnis Nasional Lifestyle

Harga Kebutuhan Pokok di Kabupaten Berau Tinggi Ternyata karena Ini

Faroq Zamzami • 2025-02-26 09:41:28
SIDAK: Diskoperindag Berau bersama tim gabungan tengah melakukan sidak bahan pokok menjelang Ramadan, dan memastikan stok masih aman.
SIDAK: Diskoperindag Berau bersama tim gabungan tengah melakukan sidak bahan pokok menjelang Ramadan, dan memastikan stok masih aman.

PROKAL.CO, TANJUNG REDEB - Panjang dan rumitnya rantai distribusi bahan pokok di Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), menjadi salah penyebab utama tingginya harga di pasaran.

Untuk menekan harga tersebut, Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Berau ingin memangkas jalur distribusi dengan menelusuri sumber pasokan barang. 

Selain memastikan stok, pihaknya juga mengawasi rantai pasok bahan pokok yang masuk ke Berau. Diharapkan para pedagang di pasar dapat memberikan informasi yang akurat mengenai sumber pasokan mereka, sehingga pemerintah daerah dapat melakukan intervensi yang diperlukan.

“Kami juga berharap harga tetap stabil, makanya kami memastikan rantai pasok barang yang datang ke Berau dari mana saja sumbernya," katanya.

Diharapkan kerja sama dari para pedagang di pasar untuk memberikan informasi yang benar, sehingga dari hasil informasi itu pihaknya bisa mengambil langkah intervensi yang diperlukan oleh Pemkab Berau.

Menurutnya, masih ada pedagang yang ragu memberikan informasi karena khawatir dengan adanya sidak. Namun, ia menegaskan bahwa tujuan pemerintah adalah untuk membantu menstabilkan harga dan memastikan rantai pasok berjalan efisien.

“Kadang pedagang melihat kita sudah takut duluan dan ragu-ragu memberikan informasi. Itu yang kami coba terus lakukan pendekatan agar mereka familier dengan kami. Justru informasi yang mereka berikan itu membantu mereka juga,” jelasnya.

 Baca Juga: Disdik Berau Tetapkan Pembelajaran Selama Ramadan, Ini Jadwalnya

Salah satu bentuk intervensi yang bisa dilakukan pemerintah adalah mengurangi panjangnya rantai distribusi barang, sehingga harga yang sampai ke masyarakat bisa lebih terkendali.

“Misalnya, kami bisa membantu dari sisi distribusi, membuat rantai pasok semakin pendek, sehingga harga di masyarakat bisa kita tekan,” tambahnya.

Sementara itu, Kabid Bina Usaha Perdagangan, Diskoperindag Berau, Hotlan Silalahi, menyebutkan ada lima komoditas utama yang dipantau menjelang Ramadan. Yaitu, bawang merah dan putih, cabai, telur, daging, serta beras.

Disebutnya, untuk harga cabai merah mengalami lonjakan hingga Rp 100.000-Rp 110.000 per kilogram dari sebelumnya Rp 80.000 per kilogram akibat faktor cuaca.

Sementara itu, bawang merah dijual seharga Rp 40.000 per kilogram dan bawang putih Rp 45.000 per kilogram. Harga beras masih stabil di kisaran Rp 13.000-Rp 18.000 per kilogram, bergantung kualitas.

"Tentunya kalau faktor alam tidak bisa kami kendalikan. Tapi harapannya dengan pasokan dari berbagai daerah bisa membuat harga semakin turun. Saya sarankan kepada pedagang untuk berkelompok memilih distributor," tegasnya.

 Baca Juga: Ada Agen dan Pangkalan di Kabupaten Berau Langgar HET Elpiji 3 Kilogram, Diskoperindag Lakukan Ini

Sedangkan, harga daging lokal juga masih standar, bertahan di kisaran Rp 150.000-Rp 160.000 per kilogram, sementara daging beku dijual Rp 120.000 per kilogram. Pun harga telur masih normal, berkisar antara Rp 58.000-Rp 60.000 per piring.

“Kami lihat di tingkat distributor, stok masih aman hingga pasca-Lebaran 2025. Harga pun tidak ada kenaikan dari produsen sampai di distributor,” ungkapnya.

Namun, ia mengakui adanya dilema dalam distribusi barang yang berasal dari luar daerah. Banyak barang kebutuhan pokok yang didatangkan dari Sulawesi dan Surabaya, namun melalui perantara di Samarinda dan Balikpapan.

“Ini yang membuat harga semakin naik. Kami mencari informasi, ingin tahu siapa yang mendatangkan barang, sehingga kami bisa mengintervensi untuk menekan harga,” jelasnya.

Salah satu contoh kenaikan harga akibat panjangnya rantai distribusi adalah minyak goreng Minyakita. Harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah adalah Rp 15.700 per liter, tetapi di pasaran ditemukan harga mencapai Rp 20.000 per liter.

 Baca Juga: Sri Juniarsih-Gamalis Sah Menang, MK Tolak Gugatan Sengketa Pilkada Berau

“Kalau pedagang itu memberi tahu informasi dari mana mereka mendapatkan barang, kami bisa menelusuri dan memangkas rantai pasoknya, sehingga harga bisa sesuai HET,” tegasnya.

Pihaknya juga telah melakukan wawancara dengan beberapa pedagang di pasar. Mereka pun dilematis, sebab 80 persen pasokan barang di Berau berasal dari luar daerah, dan saat ini tidak ada distributor utama yang mengendalikan pasokan. 

Dengan adanya sidak ini, pemerintah berharap kestabilan harga dan pasokan bahan pokok di Berau tetap terjaga hingga setelah Lebaran. (*/aja/far)

 

Editor : Faroq Zamzami
#Diskoperindag #berau #harga #bahan pokok #kaltim